Sign Up

Continue with Google
or use

Have an account? Sign In Now

Sign In

Continue with Google
or use

Forgot Password?

Don't have account, Sign Up Here

Forgot Password

Lost your password? Please enter your email address. You will receive a link and will create a new password via email.

Have an account? Sign In Now

You must login to ask a question.

Continue with Google
or use

Forgot Password?

Need An Account, Sign Up Here

You must login to add post.

Continue with Google
or use

Forgot Password?

Need An Account, Sign Up Here

Please briefly explain why you feel this question should be reported.

Please briefly explain why you feel this answer should be reported.

Please briefly explain why you feel this user should be reported.

Wedding forum Logo Wedding forum Logo
Sign InSign Up

Wedding forum

Wedding forum Navigation

  • Home
  • About Us
  • Blog
  • Contact Us
Search
Ask A Question

Mobile menu

Close
Ask A Question
  • Blog Grid
  • Blog Category
  • Blog Details
  • Ask Question

Subscribe Today →

For exclusive Youth services Insider content.

Created with Fabric.js 5.2.4

120 Million

Parents Helped
Each Year

300+

Exclusive
content

Home/ Questions/Q 10089
Next
In Process

Wedding forum Latest Questions

WeddingAdmin
  • 0
  • 0
WeddingAdmin
Asked: July 5, 20252025-07-05T02:49:57+00:00 2025-07-05T02:49:57+00:00In: Budget and Planning

Siapakah yang umumnya membiayai pernikahan di Indonesia?

  • 0
  • 0
Siapakah yang umumnya membiayai pernikahan di Indonesia?
#budgetbride#budgetfriendly#budgetwedding#ecofriendly#ecofriendlywedding
  • 5 5 Answers
  • 24 Views
  • 0 Followers
  • 0
    • Report
  • Share
    Share
    • Share on Facebook
    • Share on Twitter
    • Share on LinkedIn
    • Share on WhatsApp
Leave an answer

Leave an answer
Cancel reply

Browse

5 Answers

  • Voted
  • Oldest
  • Recent
  • Random
  1. Glen
    Glen
    2025-08-01T14:01:03+00:00Added an answer on August 1, 2025 at 2:01 pm

    Aku menikah setelah 2.5 tahun bekerja. Dulu biaya sendiri dari tabunganku karena yang menikah aku bukan orangtuaku. Isteriku dan orangtuanya pun tidak keluar biaya. Mamaku ada memberikan perhiasan (kalung dan gelang emas) ke isteriku. Kami resepsi secara sederhana di sebuah restoran yang cukup terkenal. Waktu itu mereka yang diundang aku bebaskan. Tidak seperti sekarang banyak yang menulis seperti ini di kartu undangan, “Kedua mempelai akan sangat berterimakasih bila tanda kasih tidak diberikan dalam bentuk barang.” Atau mungkin, “Kedua mempelai akan sangat berterimakasih bila tanda kasih diberikan dalam bentuk uang.”
    Sebisa mungkin menikah dengan biaya sendiri. Kurang pantas jika masih dibiayai orangtua. Bahkan kuliah pun mulai semester 4 aku biaya sendiri termasuk akomodasi, biaya hidup, buku-buku, dll. sampai tamat. Orangtua membiayaiku sampai semester 3 saja. Aku berbuat begitu dikarenakan ada kakak dan adik yang juga kuliah. Kami bertiga masing-masing hanya selisih 1 tahun. Kasihan orangtua bila harus membiayai ketiganya. Biarlah aku sebagai laki-laki yang berjuang karena kakakku perempuan dan adikku cewek.

      • 0
    • Reply
    • Share
      Share
      • Share on Facebook
      • Share on Twitter
      • Share on LinkedIn
      • Share on WhatsApp
      • Report
  2. Dita
    Dita
    2025-08-02T14:01:01+00:00Added an answer on August 2, 2025 at 2:01 pm

    Saya menikah di Bandung. Saat itu pihak laki-laki memberi semampunya. Kemudian sisanya pihak wanita yang menambahkan.
    Tetapi ada juga teman yang menikah di Bandung, pihak laki-laki yang full membiayai semua keperluan pernikahan.
    Kalau di tempat kelahiran saya di Kalimantan, biasanya ada adat jujuran. Dilakukan saat melamar calon istri.
    Di momen ini, keluarga pihak perempuan dan laki-laki saling menawar berapa biaya yang harus diberikan.
    Setau saya semakin tinggi pendidikan calon istri, maka semakin tinggi jujuran yang harus dibayarkan.
    Saat om saya mau menikah beberapa tahun lalu, calon istrinya berpendidikan S1. Seingat saya jujurannya sebesar 35 juta.
    Sayangnya adat jujuran ini agak memberatkan pihak laki-laki, terutama yang ekonominya belum mapan.
    Seorang teman yang pendidikannya dokter terpaksa batal menikah karena keluarganya memasang jujuran sebesar 150 juta pada calon suaminya. Sedihnya sang calon suami tidak mampu memenuhi itu.
    Meskipun saya orang Kalimantan, tapi Bapak saya tidak memakai adat jujuran. Beliau menerima saja berapapun biaya dari pihak calon suami saya.
    Karena Bapak juga dulu merasakan sulitnya mengumpulkan uang untuk menikahi ibu, jadi beliau menghargai apa yang diberikan oleh calon menantu laki-lakinya.
    Semoga jawabannya bermanfaat.

      • 0
    • Reply
    • Share
      Share
      • Share on Facebook
      • Share on Twitter
      • Share on LinkedIn
      • Share on WhatsApp
      • Report
  3. Rani
    Rani
    2025-08-03T13:59:52+00:00Added an answer on August 3, 2025 at 1:59 pm

    Umumnya pria..
    Saat kaka saya menikah semua ditanggung oleh sang calon suami
    tapi saya melihat ketimpangan disana sini.
    itulah kenapa saya ingin memiliki uang sendiri
    akhirnya saat saya menikah saya dan calon suami spare dana 50:50
    Ahamdulillah tdk ada omongan-omongan negatif seperti saat kaka saya menikah..
    btw kaka saya nikah di rumah
    saya ingin praktis jd menikah di gedung.
    😁✌
    abis nikah gausah beres-beres rumah ribet..
    langsung honeymoon ke luar negeri
    😁🤣

      • 0
    • Reply
    • Share
      Share
      • Share on Facebook
      • Share on Twitter
      • Share on LinkedIn
      • Share on WhatsApp
      • Report
  4. Mira
    Mira
    2025-08-04T14:01:00+00:00Added an answer on August 4, 2025 at 2:01 pm

    Indonesia memiliki banyak suku dan budaya. Suku dan budaya yang beragam ini menghasilkan banyak keberagaman dalam banyak hal, seperti perayaan, termasuk pernikahan. Jadi, kalau ditanya “Siapakah yang umumnya membiayai pernikahan di Indonesia?”, jawabannya tergantung suku dan budayanya.
    Sebagai contoh, “uang panai” pada suku bugis, makassar. Uang panai ini terkenal mahal, tergantung “level” sang perempuan (pendidikan, latar belakang keluarga, paras). Uang panai diberikan pihak laki-laki kepada pihak perempuan, sebagai mahar dan biasa resepsi. Jadi, untuk kasus ini, pernikahan dibiayai oleh pihak laki-laki.
    Contoh lain, suku jawa. Karena jawa itu luas, saya kurang tahu apakah semua suku atau tidak, tapi banyak kenalan saya orang dari jawa tengah yang mengatakan bahwa di tradisi mereka, pihak laki-laki ketika lamaran akan memberikan uang tukon atau uang lamaran, yang nanti sudah sebagai mahar dan biaya resepsi. Jadi, lagi-lagi pihak laki-laki lah yang membiayai. Sama dengan suku bugis tadi, cuma bedanya, uang panai biasanya mahal, minimal 100 juta bahkan ratusan juta. Beberapa teman saya kehambat untuk menikah karena masalah uang panai. Sementara di suku jawab, uang tukon tadi masih lebih bersahabat. Di beebrapa kasus, kalau resepsinya bengkak, ya pihak perempuan yang menambahkan. Nanti, ada lagi proses ngunduh mantu yang acara dan biaya ditanggung pihak laki-laki.
    Di bagian jawa lain, seperti Indramayu, sebagian kecil biasanya pihak laki-laki yang membiayai, tapi pihak perempuanlah yang emmbeli perabot rumah tangga seperti kasur dan lemari (lebih untuk mengisi kamar pengantin). Beda lagi dengan di suku minangkabau. Pihak perempuanlah yang datang melamar dan nantinya resepsi akan diadakan oleh pihak perempuan, dan dibiayai oleh pihak perempuan.
    Di luar keterkaitan dengan suku, masih banyak orang yang punya pemikiran dan mempraktekkan “laki-laki yang membayar biaya pernikahannya sebagai bentuk dia melamar dan menjemput anak gadis orang”. Ini biasanya untuk kasus laki-laki yang sudah bekerja dan menabung, ditambah dengan kondisi mungkin perempuannya tidak atau belum bekerja atau punya tabungan.
    Saya tinggal di Jakarta, ibu saya suku jawa, ayah saya suku minangkabau. Hal yang saya tahu dan prakteknya sudah mulai terjadi dari sejak lama adalah:banyak yang menikah dengan sistem “patungan”. Biasanya ini untuk mereka yang sudah tidak terikat dengan suku, atau tidak mau menggunakan sistem adat/suku. Tentunya ini kesepakatan dari kedua keluarga. Bisa total biaya dibagi dua sama rata (di luar atau sama dengan mahar), bisa juga kesepakatan masing-masing berapa. Hal yang saya notice lagi, kebanyakan milenial seperti ini, apalagi kalau dua-duanya sama-sama bekerja (berpenghasilan) dan punya tabungan. Saya pribadi, menggunakan sistem “patungan” karena 1) terlalu repot menentukan mau pakai adat mana 2) tidak mau memberatkan salah satu pihak 3) ingin menikah dengan tabungan kami masing-masing tanpa menggunakan uang orangtua.
    Kesimpulan dari saya, mau siapa pun yang membiayai pernikahan, yang paling penting adalah kesepakatan (jangan pedulikan omongan orang lain selain yang terlibat), dan ikhlas, supaya di kemudian hari tidak ada yang mengungkit-ungkit soal biaya pernikahan yang kelewat besar (salah satu pihak keluar uang lebih banyak atau bahkan semua biaya dari salah satu pihak), atau tidak menyampaikan unek-unek di awal yang berujung dengan memendam kekecewaan karena uang yang diberikan salah satu pihak kurang.

      • 0
    • Reply
    • Share
      Share
      • Share on Facebook
      • Share on Twitter
      • Share on LinkedIn
      • Share on WhatsApp
      • Report
  5. Hendra
    Hendra
    2025-08-08T13:59:50+00:00Added an answer on August 8, 2025 at 1:59 pm

    saya belum pernah survey sih, tapi sepertinya pihak laki2.
    namun jaman sekarang hal ini bergeser sedikit demi sedikit, kedua pihak bersama2 membiayai pernikahan, karna mungkin dari pihak wanita merasa kurang sreg kalau cuma laki2 yang bayar, atau dana dari pihak laki2 pas2an dan wanita rela rogoh koceknya agar peristiwa bersejarah itu lebih meriah dan bermakna. yang penting kedua pihak tidak merasa berat.

      • 0
    • Reply
    • Share
      Share
      • Share on Facebook
      • Share on Twitter
      • Share on LinkedIn
      • Share on WhatsApp
      • Report

Sidebar

Ask A Question

Stats

  • Questions 98
  • Answers 294
  • Best Answers 0
  • Users 55
  • Popular
  • Answers
  • Anonymous

    Di usia berapakah Anda menikah atau berencana untuk menikah?

    • 9 Answers
  • WeddingAdmin

    Mengapa riasan wajah pengantin di Indonesia rata-rata tebal dan tidak ...

    • 8 Answers
  • WeddingAdmin

    Seberapa perlukah mencantumkan gelar akademik di undangan pernikahan?

    • 8 Answers
  • Anna
    Anna added an answer Sedotan bambu beserta brushnya. Bibit sayuran. Cukup gokil karena tamu… August 25, 2025 at 11:15 am
  • Novita
    Novita added an answer Bukan aku yang nerima. Tapi menurutku ini tuh unik. Tadi… August 24, 2025 at 12:38 pm
  • Elsa
    Elsa added an answer Pernikahan menuntut perhatian yang sangat teliti dalam penataan rambut. Menata… August 23, 2025 at 1:59 pm

Related Questions

  • Apa yang harus disiapkan untuk acara lamaran dan berapa biayanya?

    • 6 Answers
  • Berapa rata-rata biaya pernikahan?

    • 4 Answers

Top Members

Rajni Saini

Rajni Saini

  • 0 Questions
  • 22 Points
Begginer
WeddingForumX

WeddingForumX

  • 1 Question
  • 8 Points

Trending Tags

#gaunpengantin #gaunpernikahan #guestgifts #inspirasipernikahan #konselingperkawinan #konselingpranikah #konsultasipernikahan #pernikahankreatif #persiapannikah #personalizedgifts #photography #photopackages #souvenirs #videography #weddingdress #weddinggifts #weddinginspiration #weddingphotography #weddingsouvenirs #weddingvideo

Explore

  • Home
  • Add group
  • Groups page
  • Communities
  • Questions
    • New Questions
    • Trending Questions
    • Must read Questions
    • Hot Questions
  • Polls
  • Tags
  • Badges
  • Users
  • Help
  • Buy Theme

Footer

© 2025 IndoWedding.com | All Rights Reserved

WhatsApp us

Insert/edit link

Enter the destination URL

Or link to existing content

    No search term specified. Showing recent items. Search or use up and down arrow keys to select an item.