Apa tips penting dalam berumah tangga untuk pengantin baru?
Subscribe Today →
For exclusive Youth services Insider content.
Lost your password? Please enter your email address. You will receive a link and will create a new password via email.
Please briefly explain why you feel this question should be reported.
Please briefly explain why you feel this answer should be reported.
Please briefly explain why you feel this user should be reported.
For exclusive Youth services Insider content.
Parents Helped
Each Year
Exclusive
content
Dear quorawan/wati. Saya berbagi tips penting dalam berumah tangga “versi” saya. Silahkan diambil jika baik, abaikan jika buruk.
Buat penanya, saya coba ikut ngasih tips sedikit ya. Sebetulnya sih kalau tips berumah tangga itu bukan untuk pengantin baru saja, buat pengantin lama juga. Karena toh pernikahan itukan sesuatu yang direncanakan untuk berusia sepanjang-panjangnya, selama-lamanya. Tapi, memang masa-masa awal pernikahan itulah yang sangat menentukan lama atau tidaknya sebuah pernikahan.
Saya mungkin akan ngasih tips satu saja. Komunikasi. Ngobrol. Kalau ada yang bilang samakan visi misi itu itu jelas benar sekali, karena percayalah perbedaan pola pikir itu akan mengganggu sekali nantinya. Nah, untuk mencapai kesamaan visi misi itulah jelas diperlukan ngobrol. Sebanyak-banyaknya. Sedalam-dalamnya. Lebih panjangnya begini, ini mungkin juga cerita pengalaman sedikit. Hehe.
Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk menjaga ritme gembira dalam berumah tangga. Satu di antaranya yang kami, saya dan istri, sepakati adalah komunikasi. Bahasa yang lebih santainya ngobrol. Ngobrol apa saja yang penting dan yang gak penting-penting amat. Tentu sesuai porsinya yang proporsional. Istri mesti bicara lebih banyak dari suami. Jangan sebaliknya, bisa jadi persoalan baru ntar. Wkwk.
Konon, kebanyakan prahara dalam rumah tangga hadir dari komunikasi yang mampet, buntu, berselisih, dan semacamnya. Kamu bayangkan, kadang-kadang, orang-orang itu sudah komunikasi aja masih punya potensi menciptakan persoalan kalau ada perbedaan, apalagi kalau gak lancar atau bahkan gak ada. Ketemu cuman buat marah-marah atau nyuruh ini nyuruh itu, ya ambyaarr buooss.
Jadi, ngobrol lah dengan pasangan. Itu paling tidak akan mengurangi konflik-konflik yang tidak perlu ada. Kalian bisa saling memahami, dan sebagai suami, kamu bisa menjadi lebih tau diri. Bahwa tugas sebagai kepala rumah tangga itu bukan hanya untuk pergi pagi lalu malamnya pulang bawa duit. Lebih dari itu, satu di antaranya, siap sedia menyodorkan telinga, dan menjadi teman diskusi bagi anggota dalam rumah tangga.
“Cara terbaik mencintai anak anda adalah dengan sebaik-baiknya mencintai ibu mereka.” Itu quote yang nggak tau asalnya dari mana, tapi bagus sekali.
Luangkan waktu, dan pilihlah tempat yang tenang. Kalau sekiranya di rumah terasa sumpek, misalnya, karena kamu butuh udara yang lebih segar, carilah tempat yang lebih nyaman untuk saling bertukar cerita. Untuk kami, biasanya kami lebih sering ngobrol di malam hari. Di tempat yang gak mesti harus di rumah. Kadang-kadang, kami beli beberapa buah segar, lalu ke GOR Sempaja, makan sambil ngobrol, lalu pulang. Kadang kami ke Taman Samarendah, kadang ke Tepian Mahakam, dengan kegiatan yang sama, lalu pulang ke rumah.
Kadang kala, kami ke mall pun cuman buat ngobrol aja gitu, sambil jalan, naik turun eskalator, liat-liat barang diskonan 50% dan semacamnya. Ya liat-liat aja sih. Belinya kapan-kapan. Haha. Kadang ke mall cuman buat komentarin tulisan-tulisan di baju yang promo-promo itu, apa sih maksudnya. Kan suka ada tuh ya tulisan yang absurd di baju-baju diskonan. Gak penting-penting amat tampaknya, tapi kami bisa sama-sama ketawa komentarin tulisan-tulisan absurd macam itu, lalu pulang dengan pikiran yang lebih senang.
Seperti beberapa malam lalu, misalnya, kebetulan anak kami lagi berada di rumah neneknya di Balikpapan. Kami sepakat untuk jalan-jalan malam dengan tujuan ke salah satu kedai es krim di kota ini, untuk supaya bisa sedikit lebih menyegarkan perasaan. Dengan perasaan yang lapang, biasanya obrolan juga akan mengalir tanpa beban. Sehingga kadang kala kami bukan cuma ngobrol sebenarnya, tapi gosip juga. Haha.
Sampai di kedai tujuan, kami pesan beberapa menu, dan membayar. Ini kedai yang memang memiliki prosedur semacam itu. Pelanggan datang, pilih menu makanan, pesan, bayar, lalu dipersilakan menunggu pesanan di meja di mana aja kita mau. Karena ini kunjungan kedua kami, kami pilih tempat sebagaimana pertama kali kami dulu ke sini, yaitu di bagian belakang kedai. Selain ngga begitu ramai, posisi ini juga menyediakan ruang yang lebih terbuka.
Sambil menunggu pesanan, kami mulai saling bercerita. Apapun yang terlintas dalam pikiran kami. Apa-apa yang mengusik perasaan, dan hal-hal yang kadang membuat kami berbeda persepsi. Tak luput juga bernostalgia tentang saat-saat pertama kali berjumpa, dan semacam itulah. Beberapa saat kemudian, kami saling melirik dan ketawa karena mendengar sebuah lagu dari kedai ini. Liriknya begini nih, sampai saya googling dah.
“Aku yang minta maaf walau kau yang salah
Aku kan menahan walau kau ingin pisah
Karena kamu penting, lebih penting
Dari semua yang kupunya.”
Kami ketawa karena kok ada lagu sebucin itu. Tapi tetap, itu karya bagus, mbak. *Ngomong ke pemilik lagunya* Sambil ngobrol begitu, kami jadi ingat lagi satu kejadian lucu di tempat yang sama ini beberapa bulan lalu.
Oiya, ini ada pertanyaan, suami istri itu kan dibilang satu tubuh ya. Jadi kalau suami cerita mengenai orang lain ke istrinya, atau istri ke suaminya, itu masuk gibah apa nggak? Kalaupun masuk, itu dosa apa nggak? Mengingat, suami dan istri itu laiknya satu badan. Ngomong ke pasangan bisa dianggap ngomong ke diri sendiri, akal-akalannya. Ini satu pertanyaan yang pernah muncul di obrolan kami dan belum terjawab. Jadi, ada yang bisa bantu jawab? 😀
Lanjut ya. Suatu ketika kami kepincut promo kedai es krim ini dari media sosial. Karena kedai ini selain menyediakan es krim juga punya menu paketan makanan berat. Di malam hari, kami berkunjunglah ke warung itu dan memesan es krim dengan paket makanan secukupnya. Karena kami bawa anak, dan agar tidak terlalu terpapar asap rokok, kami pilih tempat duduk yang agak di belakang. Singkat cerita, mulailah kami ngobrol tentang apa saja. Pengalaman-pengalaman di masa bujang, cita-cita di masa mendatang, dan lain sebagainya.
Di saat bersamaan, di pojokan dekat tempat duduk kami, ada sepasang muda-mudi yang sudah lebih dulu ada, juga lagi ngobrol. Dan sebetulnya ini pengalaman lucu yang juga menyangkut mereka. Di antara satu topik pembicaraan dengan topik yang lain itu kan kadang ada jeda ya. Nah, di masa jeda semacam itu fokus masing-masing orang yang lagi ngobrol biasanya agak buyar, sehingga kadang perhatian malah ke sekitar. Saya kebetulan terfokus pada pasangan muda-mudi itu.
Di tengah jeda obrolan, saya tanya ke istri.
“Dengar lagu ngga?”
“Iya, dengar.”
“Dari mana ya?”
Kami tolah toleh. Gibran anak kami asik aja dia nyeruput es teh. Kuat banget memang ni anak minum es yang manis-manis.
“Oh, dari pojokan itu.” Kami lalu sama-sama melirik ke pojokan tempat pasangan muda itu duduk. Mulailah saya agak perhatian ke mereka.
Kami ketawa. Gimana ngga, muda-mudi itu putar lagu keras-keras dari hape, sambil sesekali nyanyi ngikutin itu lagu. Dalam pikiran kami, apa gak risih gitu ya, putar lagu keras-keras. Pake diikut-ikutin nyanyi pula. Lagunya cukup populer sih, cuman kan selera musik orang juga beda-beda ya. Boleh jadi ada yang cukup terganggu mendengar lagu mereka itu. Kalo kami sebenarnya nggak terganggu, cuman karena lagi jeda obrolan aja jadi perhatiannya kebetulan ke sana.
“Ngeles aja lu, Kang Siram.” Bukan kata Pak Novel Baswedan.
Beberapa waktu kemudian, kami lanjut ngobrol yang lain lagi. Fokus perhatian kami jadi ngga ke pasangan itu lagi dong. Sesekali kami komentarin hidangan menu pilihan kami. Overall, enak sih sebenarnya. Kami pesan paket makanan yang tentunya ada nasi gitu kan. Tapi, kok sendoknya cuman garpu dan pisau. Iya kami tau itu daging bisa dipotong pake pisau, lalu dicolok ke garpu dan dengan garpu potongan daging itu dimasukkan ke mulut. Hap. Gampang.
Tapi, Jumiraaahhhhh, ini nasinya pegimane. Nasi ini bukan nasi ketan. Ini nasi yang sudah taat physical distancing tanpa diperintah bahkan jauh sebelum zaman corona. Ini jenis nasi yang tercerai berai gitu, bukan yang melengket satu sama yang lain. Tanpa kami gunakan politik adu domba juga, ini nasi sudah terpecah belah.
Kalau kami disediakan kobokan mungkin agak mendingan gitu ya, karena pasti kami paham akan makan pake tangan. Tapi ini ngga, hanya pisau dan garpu. Ngakaklah kami ngeliat suguhan makanan macam ini. Masa iya nasinya kami colok satu persatu ke mata garpu. Lima butir satu kali suap. Kan nggak ya. Masih bagus lima butir, kalau jadi disahkan itu RUU HIP kemarin, bisa jadi tiga butir aja ntar. Haha ya maap.
Tapi ya sudahlah, paling tidak kami dapat pelajaran. Bahwa makanan enak semestinya juga harus disuguhkan dengan cara dan alat yang tepat. Saya lalu menoleh ke pojokan tempat pasangan yang tadi duduk. Mereka rupanya sudah ngga ada.
“Beb, ke mana mereka?” Saya tanya ke istri sambil melirik ke pojok.
“Gak tau, sudah pergi kali.” Jawab istri saya, juga menoleh ke pojok. Pojok hatikuuuu. Hahai garing.
Saya pastikan lagi. Saya perhatikan dengan seksama, di meja sudah kosong. Barang-barang sudah ngga ada. Dan bekas makanan pun sudah pula diambil sama pelayan. Meja sudah bersih. Meja sudah bersih. Meja sudah bersih. Sudah gak ada barang-barang di situ. Sekali lagi, meja sudah bersih. Gak ada hape ketinggalan.
Saya ngakak.
“Beb, itu kok masih ada suara lagu dari pojok.”
Istri saya menoleh. “Loh, iya ya..” Wkwkwk.
Heboh lah kami sebisik-bisiknya. Rupanya selama ini, gosipan kami ke orang lain itu keliru. Di pojokan itu memang ada salon kecil yang terhubung ke dalam kedai. Dan lagu-lagu yang buat kami jadi salah sangka ke mereka itu ya diputar dari dalam sana. Tentu kami nyadar dong telah begitu lancang menggosipi mereka. Nastaghfirullah. Ya Rabb, ampuni kami. Kecele kami rupanya.
Sembari menyadari kekeliruan karena telah terlalu fokus ke orang lain, beberapa saat kemudian, kami pun siap-siap pulang. Tak ada hujan turun malam itu, seperti juga malam-malam sebelumnya. Di tengah perjalanan pulang, kami masih geli membayangkan kejadian yang baru saja terjadi. Istri saya lalu nyeletuk.
“Bukan fokus tuh, lebih ke rese’ malah..”
Saya ngakak lagi mendengarnya. Tapi teman-teman perlu tau, ini rese’ gak serius ya, karena toh gak ada rasa benci kami di sana. Kami cuman ngobrol dan kejadianlah apa-apa yang terjadi di sana. Sebelum sampai ke rumah, Gibran bocah kecil kami itu sudah tidur lelap di pangkuan Ibunya. Tentu dengan lepotan-lepotan es krim di bibir dan bajunya.
Tabiikk..
Diskusikan 3 hal ini:
3 hal ini adalah hal-hal yang rawan menjadi sumber konflik. Sangat penting untuk dibicarakan.
Seks:
Diskusikan ke mana arah seks yang dilakukan. Cukup sebagai sarana rekreatif alis have fun aja atau juga merencanakan kehamilan?
Ada ekspektasi tertentu nggak terkait aktivitas seksual dengan pasangan.
Learn and explore.
Mana yang membuat nyaman dan mana yang tidak dalam aktivitas seksual.
Dll.
Finansial:
Pemasukan, pengeluaran, tanggungan, tabungan, rencana ke depan, dll. Bahkan baiknya dibicarakan sebelum menikah.
Komunikasi:
Gimama pola asuh orang tua pasangan dulu.
Love language pasangan, love language kita. Kindly check on website, ada kok. Ini penting biar saling paham bahasa cintanya.
Bagaimana cara menghadapi konflik.
Do and don’t dalam pernikahan yang dijalankan.
Buat aturan dalam rumah tangga. (ih, kok kaku amat? Eits, aturan itu bisa dibikin fun juga kok!)
Dan lain-lain.
Terakhir, penting juga!
Selamat menikmati fase bulan madu sekaligus fase adaptasi. Bangun dasar pernikahan yang kokoh. Semangat mengarungi ombak yang lengkap dengan lembah dan tanjakannya 🙂
—
Pesan ini ditulis oleh penulis yang belum berumah tangga. Minim pengalaman, hanya berdasarkan pelajaran 😅
Tentu yang sudah berpengalaman bisa lebih menjelaskan hal yang lebih konkrit lainnya.